Showing posts with label teknik 1. Show all posts
Showing posts with label teknik 1. Show all posts

Friday, January 10, 2014

Tips Fotografi landscape

Tips ini sangat berguna untuk memotret landscape yang benar. Tetapi foto yang bagus tidak selalu foto yang benar. Jadi silakan saja untuk melanggar tips-tips ini, tapi sebelumnya kita harus tahu dulu. Mari kita simak tips berikut ini.
1. Perhatikan Horizon


Jika kita berhadapan dengan suatu pemandangan, hampir dapat dipastikan kita akan melihat garis horizontal yang membentang dan membelah gambar menjadi dua bagian. Ini disebut garis horizon. Dalam Fotografi Landscape, jika salah satu bagian lebih menarik. Berilah porsi 2/3 dari frame. Dan yang kurang menarik beri sisanya yaitu 1/3. Memang tidak mutlak, tetapi bila POI berada pada bagian yang 2/3 maka kesannya akan lebih kuat.

Wednesday, January 8, 2014

Cara Membuat Efek ROL pada Foto dengan Plug in Photoshop

cara membuat efek ROL pada foto
Sebelum melangkah ke tutorial mengenai Cara Membuat Efek ROL pada Foto dengan Plug-in Photoshop, kita caritau dulu yuk apa sih ROL itu? ROL atau Ray of Light jika di terjemahkan secara bebas adalah berkas sinar pada hasil foto yang tertangkap oleh sensor kamera. Berkas sinar ini bisa didapat secara alami dari sinar matahari dan sinar buatan dari lampu atau lighting. ROL merupakan salah satu faktor yang membuat sebuah foto menjadi ‘Wow’ dan lebih berdimensi seperti contoh foto berikut:
 

Rays of light
image by Shotter '81

Ray of Light
image by micopix


Ray of Lights
image by Mocci
++


Bagaimana cara menghasilkan ROL pada hasil foto kita? Ada beberapa cara, diantaranya:


1. Secara alami. 
Cara ini agak sulit dan membutuhkan kesabaran 'tingkat tinggi' karena harus menunggu ‘kebaikan’ alam menampakkan wujudnya sesuai kebutuhan kondisi ROL. Biasanya di pagi hari yang sedikit berkabut ROL akan terlihat di sela-sela dedaunan, atau sore hari menjelang matahari terbenam ROL akan terlihat di antara awan-awan mendung.
2. Dengan rekayasa di lokasi pemotretan. 
Efek ROL diciptakan sedemikian rupa di lokasi pemotretan dengan menggunakan asap buatan (bisa dari smoke machine atau asap hasil pembakaran dan memanfaatkan sinar matahari atau menggunakan continuous lighting).
3. Olah digital pada hasil foto. 
Efek ROL dihasilkan dengan menggunakan software editing foto atau olah digital antara lain yaitu photoshop.
Nah pada tutorial Cara Membuat Efek ROL pada Foto dengan Plug-in Photoshop ini saya menggunakan cara #1 (alami) dan #3 (olah digital). Seperti terlihat pada foto awal di bawah ini (maaf ya sob kualitas fotonya kurang bagus, maklum jepretnya pake hp). Foto ini saya jepret saat cuaca agak mendung, namun sinar matahari masih agak terang pas di tengah-tengah antara awan gelap dan garis horizon.
efek ROL alami pada foto
Pada foto di atas ROL terlihat masih samar-samar, karena itu kita akan mempertegas membuat ROL menjadi lebih jelas terlihat. Dengan aplikasi foto editing, banyak cara yang bisa dilakukan untuk mempertegas ROL tersebut, namun kali ini saya ingin sharing yang simple-simpel dulu sob, menggunakan plug-in Photoshop Nik Color Efex Pro 3.0. Berikut ini langkah-langkahnya:
1. Karena Color efek pro 3.0 adalah plug-in photoshop, maka yang pertama sobat harus punya  adalah aplikasi Photoshop terlebih dahulu, dan saya yakin kalau Photoshop pasti sudah ter-install di komputer sobat kan? Nah, tinggal sobat install Nik Color Efex Pro. Di sini saya tidak memberikan download programnya, silahkan sobat googling banyak pilihan tempat download bahkan beberapa gratis untuk versi yang pro 4. Saya asumsikan Color Efex Pro sudah plug-in di Photoshop, dan berikut ini langkah selanjutnya.

2. Buka aplikasi Photoshop dan Open ROL foto.

 3. Klik Filter > Nik Software > Color Efex Pro 3.0

4. Klik fitur Low Key dan atur setting seperti ilustasi gambar di bawah ini. Add Glow: 22%, Saturation: 63%, Effect Strength: 83%. Atau sobat bisa bermain dengan setting-an tersebut sesuai dengan selera sobat sampai sesuai dengan keingian seperti terlihat pada gambar di bawah-nya, kemudian klik Ok.
cara membuat efek ROL pada foto dengan nik color efex pro 3.0
cara membuat ROL ray of light foto

Nah, ini dia hasil efek ROL sebelum dan sesudah edit Low Key dengan Nik Color Efex Pro 3.0.
contoh hasil cara membuat efek ROL pada foto
Demikian tutorial singkat Cara Membuat Efek ROL pada Foto dengan Plug-in Photoshop. Tutorial tentang cara membuat efek ROL foto dengan fitur Radial Blur pada Photoshop akan saya posting kemudian. Semoga bermanfaat.

Teknik Strobist untuk Foto Kreatif dengan Flash (Lampu Kilat)

flash untuk strobist
Seiring dengan perkembangan fotografi digital (kamera digital / kamera dslr) yang sangat pesat, Strobist muncul dan mulai berkembang berkat daya kreatifitas para fotografer, yang kemudian Strobist ini menjadi semacam tren dikalangan forografer di seluruh dunia dalam berkreasi menggunakan artificial light atau cahaya buatan.
 

Lalu apakah Teknik Strobist itu? Definisi Strobist berikut ini seperti pada pada Daftar Istilah Fotografi pada Abjad S-Z: Strobist adalah trik atau teknik pendayagunaan lampu kilat (flash), yang biasanya hanya dipasang di hotshoe (penampang flash yang ada di atas kamera), agar dapat digunakan untuk melakukan pencahayaan dari berbagai posisi di luar hotshoe kamera (off-shoe / off-camera flash). Untuk menghubungkan lampu kilat (flash) dengan kamera digunakan piranti Wiresless Flash Trigger Control yang terdiri dari Receiver dan Transmitter.

Receiver dan Transmitter untuk strobist
 
Tujuan utama para fotografer menggunakan teknik Strobist adalah untuk menggantikan lampu studio yang relatif mahal dan cukup sulit untuk dibawa kemana-mana. Nah dengan Teknik Strobist ini kita seperti membawa studio foto ke mana saja, namun dengan teknik dan pengaturan lighting tertentu akan menghasilkan kualitas foto yang tidak kalah dengan foto studio. Karena kemudahan ini juga lah teknik strobist banyak digunakan oleh fotografer komersial seperti fotografer jurnalistik, pre-wedding, wedding, interior, dan foto produk.
           
Aksesoris flash (lampu kilat) untuk Strobist saat ini juga sudah sama dengan strobe flash studio (lampu studio), perbedaannya hanya pada ukurannya yang lebih kecil, antara lain: honeycomb, snoot, soft box, dll.

Seperti halnya lampu strobe studio, pada teknis Strobist kita juga harus menguasai metering, eksposur, dan sinkronisasi flash. Perbedaannya hanya pada intensitas pancaran cahaya yang lebih lebih terang dan luas dibanding dengan built-in flash, intensitas cahaya ditunjukkan dengan GN (Guide Number).
  • Untuk mengetahui berapa kekuatan pancaran cahaya flash, silahkan lihat pada penjelasan GN (Guide Number).
  • Untuk mengetahui batas maksimum shutter speed saat menggunakan flash, lihat pada penjelasan Flash Sync Speed.
  • Apa saja mode flash yang bisa kita pilih pada kamera digital (dslr), ada pada penjelasan Mode Sinkronisasi Flash
  • Untuk mengetahui Metering pada kamera digital (dslr) untuk teknik strobist, silahkan baca pada artikel Metering Pada Teknik Strobist.

Itulah sekilas tentang dasar teknik Strobist khususnya menggunakan kamera digital atau kamera dslr.

Tips memotret hewan – wildlife photography

Bukan hanya sekedar close-up

Memotret hewan memang umumnya diperlukan lensa tele (tele lens), terutama jika anda berada di alam liar. Begitu pula dengan di kebun binatang. Karena jika tidak, point of interest dan detail dari hewan tersebut tentunya tidak akan terlihat jelas. Kecuali jika anda memang niat untuk mengkomposisikan dengan alam naturalnya. Tebing, pohon, matahari tenggelam, bisa menjadi elemen yang menarik disamping hanya sekedar foto hewan ditengah-tengah frame.
Kegunaan tele lens lain yaitu, jika anda berada di kebun binatang, jeruji kandang bisa dibuat out of focus dengan bukaan aperture besar.

Kontak Mata

Tidak ada yang salah dengan fotografi, hanya enak dan tidak enak untuk dilihat. Untuk itu memang ada beberapa pakem yang lazim diikuti untuk memotret hewan; salah satunya yaitu kontak mata. Bersiaplah untuk berlumuran tanah dan mandi debu. Tundukkan diri anda, kalau perlu, tiarap. Samakan eye-level mata sang hewan dengan lensa anda.
Karena mata adalah jendela hati, foto anda akan terasa lebih intim dan hewan obyek anda terasa lebih ekspresif. Seperti halnya dasar memotret manusia, focus point kamera haruslah pada mata obyek. Mata yang mana? Yang terdekat dengan lensa anda. Untuk yang terakhir ini, tidak bisa diganggu gugat.

Setting Kamera

Pada umumnya saya memotret dengan setting Shutter priority (S pada Nikon, Tv pada Canon). Hal ini dikarenakan gerak hewan yang sulit ditebak. Ada kalanya saya ingin mem-freeze orangutan yang melompat dari satu pohon ke pohon lain, atau ada kalanya saya ingin mendapat efek motion blur / panning kuda yang tengah berlari. Jika setting saya di Aperture priority atau Manual, sulit untuk tiap kali mengaturnya. Momennya keburu hilang.
Gunakan High Continuous Mode. Kita tidak akan pernah tau kapan momen terbaik dari hewan in motion akan kita dapatkan. Resikonya memang memory card akan cepat penuh, apalagi jika anda memakai format RAW.
Set focus mode di Continuous Focus. Pada Nikon ditunjukkan dengan AF-C, pada Canon, AI Servo. Continuous Focus berguna untuk membidik fokus obyek yang selalu bergerak.

Hal-Hal Non Teknis

Memotret hewan bukanlah hanya sekedar teknis. Hewan adalah makhluk hidup yang memiliki ekspresi dan keunikan tersendiri. Temukan sifat-sifat alami mereka yang unik. Foto singa mengaum garang, tentu lebih menarik ketimbang yang tengah terkantuk-kantuk dibawah pohon. Anjing yang tengah melompat menangkap frisbee, jauh lebih menarik ketimbang yang tengah melamun di depan kandangnya.
Photography is a waiting game. Adakalanya seorang wildlife photographer harus menunggu berjam-jam atau berhari-hari untuk menunggu momen tertentu.

Tapi ini sekedar rahasia kecil dari saya, jika anda memotret di kebun binatang, umumnya aktivitas tinggi mereka adalah menjelang jadwal makan. Cari tahu jadwal makan mereka. Mereka akan lebih beraktivitas pada saat diberi makan, seperti meloncat kesana kemari, berlarian untuk rebutan makanan dan sebagainya. Datang lebih awal ke area sebelum jam makan tiba, biasanya bakal penuh. Tentukan best spot, pastikan semua setting kamera sudah benar, anda akan mendapatkan lebih dari sekedar animal portrait!
Tips terakhir, jadilah fotografer yang bertanggung jawab. Jangan pernah mengganggu kehidupan liar hewan dan habitat aslinya. Itu yang terpenting. Foto anda tidak akan berarti apapun jika hewan yang anda ambil terganggu apalagi tersiksa (abused). Mulailah belajar dari hewan peliharaan anda sebelum anda terjun ke alam liar.

Akhir kata, Selamat ‘berburu’ hewan!

Tuesday, January 7, 2014

Teknik fotografi memotret sunrise, sunset dan twilight + setting kamera


Memotret sunrise dan sunset (sebenarnya gak ada bedanya dari sisi fotografi, yang beda cuma sunrise lebih dingin dan sepi daripada sunset, dan yang satu terbit dan yang lainnya tenggelam he he he). Persiapan yang dibutuhkan tentunya adalah memeriksa lokasi di hari sebelumnya, arah matahari dan sebagainya. Peralatan utama yang dibutuhkan adalah kamera, tripod, dan senter.
Setelah tiba dilokasi, hal yang pertama dilakukan tentunya mencari lokasi yang bagus dan aman untuk memotret. Setelah ketemu, baru pasang kamera di tripod. Kalau bisa jangan kebalikannya, kalau keburu pasang tripod dulu biasanya kita sudah malas bergerak mencari posisi yang lebih bagus.


Mode dan setting exposure kamera
Mode kamera yang saya gunakan adalah mode manual (M). Pastikan AUTO ISO dalam kondisi OFF. Rugi dong, kalau ternyata AUTO ISO kamera memilih ISO yang terlampau tinggi karena mendeteksi pencahayaan yang gak begitu terang. Setelah itu saya akan set ISO rendah, sekitar 100/200 (tergantung kamera masing-masing). Dengan ISO rendah, kualitas fotonya paling bagus :)
Bukaan favorit saya adalah sekitar f/8 sampai f/16.  Dengan bukaan yang relatif kecil, ruang tajam menjadi besar dan pemandangan yang luas bisa tajam semua. Setelah itu, saya tinggal atur shutter speed sampai lightmeter jatuh di titik nol saat saya menekan setengah tombol shutter/jepret. Biasanya shutter speed akan jatuh lebih lambat dari satu detik sesaat sebelum matahari terbit.
(Sumber bacaan: Untuk mengenal istilah fotografi seperti mode kamera, ISO, bukaan dll silahkan mampir ke halaman top post kategori dasar fotografi)
Untuk fokusnya, saya mencoba autofokus, tapi kalau langit masih gelap dan kamera gagal mengunci fokus, saya akan set lensa/kamera ke manual fokus, dan mengunakan live view (komposisi dengan layar LCD) dan kemudian mencari fokus dengan memutar barrel fokus di lensa.
Lalu saya akan mengambil test shot, kalau terlalu terang atau gelap, saya akan ganti nilai shutter speednya supaya hasilnya sesuai keinginan saya. Asyiknya kamera digital jaman sekarang memberikan hasil foto langsung di layar LCD jadi tidak ada salahnya mencoba-coba setting yang berbeda-beda.
Idealnya mengunakan self-timer atau exposure delay supaya saat kita menekan tombol shutter, kamera tidak goyang dan hasil foto tajam. Remote dan cable release, dua aksesoris pembantu dapat membantu.
Kalau pemandangannya mencakupi sesuatu yang bergerak, contohnya ada orang seperti nelayan, fotografer, satwa, dll, maka shutter speednya gak boleh terlalu lambat (lebih dari satu detik) karena subjek yang bergerak itu akan tidak tajam. Kalau bisa, kita gunakan shutter speed cukup cepat, contohnya 1/15 detik atau kalau bisa 1/100 detik lebih ideal lagi. Untuk mendapatkan shutter speed cepat tanpa membuat hasil foto gelap, naikkan nilai ISOnya.
Filter atau tidak?
Filter seperti GND (graduated neutral density) biasanya digunakan untuk menyeimbangkan pencahayaan langit dan bumi saat sunset dan sunrise. Saya sendiri sukanya tidak mengunakan filter GND dan membiarkan bagian foreground gelap/siluet. Supaya kesannya lebih alami dan bentuk-bentuknya lebih menonjol. Alasan lain adalah tanah di tepi danau itu kotor, banyak sampah plastik bekas turis :( Dan alasan lainnya, filter GND repot dipasang dan yang berkualitas tinggi cukup mahal dan mudah rusak.
Alternatif lain jika ingin langit dan buminya seimbang yaitu mengaktifkan fitur yang dinamakan Active D Lighting (Nikon), Auto lighting optimizer (Canon). Ada juga kamera yang kini memiliki fitur Built-in HDR. Saat fitur ini aktif, kamera akan otomatis membuat dua gambar dan menggabungkannya langsung menjadi satu.
Cara lainnya yaitu membuat dua atau lebih dari dua foto yang terang gelapnya berbeda-beda lalu menggabungkannya dengan software pengolah HDR seperti Photomatix atau Photoshop CS. Saat mengunakan teknik HDR, kita wajib mengunakan tripod supaya foto akhir tidak berbayang dua.
Keterangan foto di atas
Foto diatas saya buat saat tur fotografi di daerah Pangalengan, Jawa Barat. Pagi-pagi sekitar jam 5.30 WIB. Saat ini biasanya disebut twilight hour / blue hour, menjelang matahari terbit. Secara komposisi saya mencoba membuat komposisi yang seimbang dengan adanya dua pohon disebelah kiri dan kanan. Siluet fotografer dan perahu diseimbangkan dengan dua perahu di sebelah kanan. Lensa lebar digunakan untuk membuat kesan luas berdimensi.
ISO 200, f/8, 1/2 detik, 16mm, kamera full frame (10mm untuk kamera bersensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9
Saya mengunakan ISO 200 supaya saya bisa mendapatkan shutter speed 1/2 detik, cukup supaya orang-orang ditepi danau tidak blur, dan kualitas foto masih terjaga.
Keterangan foto dibawah
Foto dibawah kondisi sudah sangat gelap karena matahari sudah tenggelam sekitar jam 18.15. Untuk membekukan gerakan nelayan yang sedang menjala ikan, saya mau gak mau harus pakai shutter speed tinggi. Caranya saya naikkan ISO ke 6400 kemudian gunakan bukaan terbesar, yaitu f/1.4. dan dari dua setting tersebut, saya mendapatkan shutter speed 1/125 detik. Lumayan untuk membekukan subjek foto.
Selain nelayan, saya memasukkan elemen foreground yaitu pohon di tepi waduk Jatiluhur. Lampu-lampu kuning dan refleksinya dari seberang waduk yang memberikan efek visual tambahan yang menurut saya cukup menarik.
ISO 6400, f/1.4, 1/125 detik, 85mm (di full frame, kira-kira 60mm di sensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9


Infofotografi secara rutin menyelenggarakan pelatihan dasar fotografi, pengenalan kamera, dan tur fotografi untuk mengasah ilmu dan praktis. Tempat terbatas dan sering terisi penuh

Penempatan Lighting Studio Sederhana

Teknik Fotografi - Percaya atau tidak, Sobat tidak memerlukan segudang peralatan studio atau pencahayaan mahal dan canggih untuk memulai foto portrait didalam studio. Dua sumber cahaya lighting sudah lebih dari cukup. Artikel InFotografi kali ini akan terfokus pada Tiga pengaturan dasar yang kami rasa lebih dari cukup bagi Sobat yang ingin memulai fotografi Portrait di dalam studio. 
Garage Studios Lighting Equipment
Sobat bisa menggunakan satu Main light di posisi yang dirasa tepat, dan kemudian posisikan sebuah reflektor sebagai sumber cahaya kedua, pengaturan lighting sederhana tersebut sudah bisa memulai langkah awal Sobat InFotografi dalam fotografi studio.

ketinggiani, angle, power dan jarak sumber cahaya akan memberikan dampak pada bentuk wajah subyek kalian. Yang perlu digaris bawahi adalah coba cermati bagaimana cahaya jatuh ke subyek kalian. Gunakan layar LCD untuk mereview foto - foto yang kalian ambil, terkadang merubah ke preview mode monochrome bisa membantu kalian untuk memfokuskan ke bentuk, tone serta bayangan yang jatuh ke area wajah sehingga Sobat bisa memvisualisasikan hasil akhir foto portrait kalian.

Penempatan Main Light

 

Photo: N-Photo

1. Tinggi
Pada banyak pemotretan Sobat mungkin akan memposisikan Main Light di atas model. Perhatikan bagaimana bayangan dari hidung jatuh ke sisi bawah wajah dan terkesan memperpanjang fitur hidung. Sobat idealnya menginginkan bayangan hidung untuk menunjuk ke ujung bibir. Bentuk segitiga cahaya pada pipi di sisi bayangan sering disebut dengan Rembrandt Lighting, dan untuk mendapatkan efek pencahayaan ini Sobat cukup meminta model untuk sedikit memindahkan kepala model.

2. Sejajar (Eye Level)
Pasang lampu flash atau Main Light di samping dengan tinggi sejajar dengan model, dan cahaya akan mengenai seluruh sisi wajah. Bayangan yang terbentuk memberikan kesan memperlebar fitur wajah. Akan lebih efektif jika cahaya tersebut seimbang dengan sumber cahaya kedua yang berada di sisi berlawanan. Biarkan sumber cahaya tersebut atau main light tetap menyala sehingga Sobat bisa melihat bagaimana bayangan yang terbentuk.

3. Rendah
Sobat mungkin tidak ingin menggunakan pengaturan yang satu ini. Penempatan main light seperti ini akan memberikan kesan wajah yang menakutkan. Mungkin jika Sobat memotret untuk keperluan Halloween bisa saja menggunakan posisi main light seperti ini. Seperti yang terlihat di dalam foto contoh diatas, penempatan main light yang rendah menghasilkan foto portrait yang kurang menyenangkan. Bayangan hidung tampak tebal, dan kantung mata terlihat lebih jelas.

Berikut ini adalah Tiga Style pemotretan Studio Portrait :

 

Photo: N-Photo

1. Classic Rembrandt
Style portrait satu ini merupakan pengaturan lighting dasar yang bagus. Sobat terkesan menciptakan sebuah segitiga kecil pada bayangan di sisi wajah dengan bayangan hidung yang menunjuk ke arah bibir. Gunakan reflektor untuk mengisi area bayangan dan satu backlight yang menggunakan snoot untuk memberikan cahaya pada rambut model.

2. Rim Light
Posisikan Dua sumber cahaya dengan power cahaya yang sama sedikit di belakang model dan menghadap ke kamera. Gunakan reflektor untuk memantulkan cahaya ke bagian hidung serta dahi model. Style foto ini cocok untuk menonjolkan struktur tulang, sangat cocok untuk memotret laki-laki dan nude art.

3. Beauty
Posisikan satu softbox besar diatas model yang mengarah kebawah sehingga cahaya jatuh dari depan dan merata. Untuk menyeimbangkan exposure gunakan reflektor yang diposisikan dibawah wajah model. Reflektor akan memantulkan cahaya ke arah wajah. Jika Sobat ingin menonjolkan kecantikan model kamu, ini adalah pengaturan yang tepat.

Thursday, November 14, 2013

Know Candlelight Photography

Photography Techniques - Well .. this article could be the concept of pre-wedding photos loh , why ? candlelight photography or photography with candle light source could reinforce the impression of a romantic . Hmm so remember the days when candlelight dinner instead of going out ? Is my friend candlelight photography ever tried doing this ? The result could be an amazing tablet , given candlelight impressed not to mention warm and golden light flickering candle always override the subject's face or a model photo .We three ...
 

Each field of photography has always had challenges including the photos sourced light this candle . You can be sure Buddy will encounter low light conditions and it is the first thing you have to face . Here are some tips when doing candlelight photography :1 . Turn off the flash .If my friend wants to get natural light candles then turn off your flash . Try using a flash , and my friend certainly will not get a warm glow from the golden colored wax .2 . Use the TripodJust as in other low-light photography , use a tripod to get sharp images . Vulnerable low shutter speed with camera shake or camera shake . Ensure your camera remains stationary at the time of shooting using a tripod , and also consider using the shutter release to reduce the shock when Buddy pressing the shutter button .3 . Add candles .As we have explained above , that the greatest challenge in canlelight photography is the lack of light at the time of the shooting . Increase the candles of course can amplify light , and of course will also give you the flexibility to set the shutter speed , ISO and aperture .4 . Expand the range of candles .Using a candle or candles positioned adjacent at one position will cause the light to make a shadow to be strong in the face of the subject . The shadows could be just what you are looking for , but ideally light is spread evenly to form a softer shadows .5 . Natural reflectorTake advantage tablecloths or napkins white colored , these objects could be a natural reflector to add light to the subject of your photo . If you do not believe try to take pictures with and without white colored tablecloth , of picture with white tablecloths will terexpose better than them . The tablecloths reflect light candles in the direction of your subject 's face . This also applies to the walls or roof . Of its effect is not as great as we expected , but in low light conditions it will all help you get better pictures .6 . Quick lensIf my friend shooting with DSLR cameras and lenses have a few options , then choose the fastest lens you have. Why do fast lenses ? because it facilitates you with the lens aperture is wider and it means that more light enters the camera . My friend can use a 50mm lens ( f/1.8 or f1 / 4 ) . Note also that by using a wide aperture will produce a depth of field or depth of field is narrow , and there is less area of ​​the photo that will be focused .7 . Zoom and ApertureIf my friend using a zoom lens then noticed that the shorter the focal length the greater the maximum aperture that can be used . For example if you use the 18- 55mm kit lens then if you use the FL 18mm the maximum aperture that can be used will be increasingly wide f/3.5 . So move close to the subject when taking pictures using a short focal length ( wide ) to obtain a wider maximum aperture .8 . Context and backgroundtry to keep sesimple may , if possible, place the subject in front of a white colored background . avoid objects or objects that could be breaking the audience 's attention your photos .9 . shutter SpeedOne way to get more light into the camera is using a slower shutter speed . Remember that by reducing the shutter speed will increase the potential of being recorded on a motion picture ( either subject movement , or a candle flame ) . If the subject is quiet shooting including candle flame , try using a speed of 1/15 .10 . ISO SettingsThe other way when faced with low light conditions is to raise or elevate the ISO setting on the camera . Of course there are consequences when you change the ISO setting , the onset of noise or grain in your photos . If Buddy does not require the presence of ISO , try to keep using ISo under 400 , more than that then you will see the noise , especially if you print the image to a large size .11 . exposureIf Buddy include candles in the frame , the camera will produce images that you underexposed because the camera saw a bright spot . Buddy would probably be trying to raise one or two stops away from what is recommended by the camera . Remember do not raise the stop too much , you will end up with a spot that is too light in your photos .12 . White BalanceDo a little experiment with the white balance when doing candlelight photography . Scatter light colored candle warmer . WB settings automatically or " AUTO " is not likely to provide a warm color that you are looking for . Try some indoor settings such as white balance and Sinkers . Do not forget to use the RAW format so that you more freely adjust the white balance in post processing .13 . compositionIn terms of the composition there are two things that can be done , pal could include candles in the frame or let it out the frame . Both compositions are equally capable of producing good photographs , experiment ! If you decide to include candles in the frame of course will affect the camera settings ( as discussed in section exposure) , but also will create a point of interest, robust , and leads the eye to the photo lovers the candles , but also remember not to wax even distract you from the main subject .14 . Other light sourcesSometimes candles are not able to produce enough light when shooting , if you feel this is the case , then consider adding another light source such as a lamp that has the character of a warm light / golden .15 . Use a flash that comes with Colored Gel .Point number one is we recommend to turn off the flash to get natural light candles . But it could be an exception if you have a simple photographic devices such as colored gel . This simple photographic device can change the color of the flash becomes warmer or golden . Do not use the flash light is too strong , do some testing so that you can still get the natural colors of the candles .